Sebelum lanjut membaca, jangan lupa di subscribe ya website ini, dan kalau teman-teman merasa mendapatkan informasi yang baik, tolong diklik juga iklan nya, gak perlu banyak-banyak, satu aja tiap berkunjung cukup, gratis kok. Supaya website ini bisa saya kembangkan lebih baik lagi. Terimakasih . Hehe

Oke, kita masuk ke topik utama. Bagaimana menilai suatu emiten itu sudah murah atau masih mahal?

Kalau penilaian ku pribadi, ada beberapa kriteria yang sangat-sangat sederhana untuk aku menentukan apakah saham itu murah atau masih mahal.

Jangka Waktu Balik Modal

Prinsip utama yang selalu kupegang adalah, ketika aku membeli suatu saham, aku membeli suatu bisnis. Tak ubahnya seperti seorang teman menawarkan warung kopi nya yang sudah beroperasi untuk kita akuisisi, karena satu dan lain hal.

Tentu yang kita tanyakan terlebih dahulu adalah, apakah bisnisnya menguntungkan? Berapa laba bersihnya per tahun? Berapa harga yang dia tawarkan? sehingga kita bisa menghitung perkiraan berapa tahun balik modalnya.

Untuk bisnis yang baik, menurutku, balik modal 5 tahun , itu sudah cukup murah. Kalau contohnya warung kopi itu tadi deal di harga 100 juta, laba bersih 20 juta per tahun. Maka itu cukup baik , kurang dari situ lebih baik lagi.

Tentu karena yang kita proyeksikan adalah masa depan, yang mana tak seorangpun tau apa yang akan terjadi ke depannya, maka kita harus melihat history atau track record bisnis nya. Kalau bisnis warung kopi tadi sudah berjalan selama lebih dari 10 tahun , dan selama itu pula, konsisten dalam mencatatkan laba, bahkan laba dan penjualannya selalu bertumbuh, maka menurutku itu adalah bisnis yang baik.

Dan pertimbangkan juga, apakah 10 tahun ke depan bisnis ini masih akan tetap eksis atau tidak. Semakin bisnis itu adalah kebutuhan mendasar manusia, semakin sederhana bisnisnya, maka menurutku itu adalah bisnis yang baik.

Intinya adalah kemampuan bisnis dalam mencetak laba, sampai lebih dari 10 tahun ke depan.

Ini adalah penjelasan sederhana dari PER (price Earning Ratio) yang teman-teman mungkin sering baca atau dengar kalau di dunia saham.

Jumlah Aset

Kembali ke warung kopi tadi. Setelah kita tau bahwa bisnis itu menguntungkan, maka yang menjadi pertanyaan selanjutanya adalah, apa-apa saja aset yang dimiliki, mulai dari peralatan, uang kas, hingga hutang-hutangnya.

Contohnya, total aset warung kopi setelah dijumlahkan bernilai 150 juta. Dengan total hutang-hutang sebesar 30 juta. Nilai peralatan-peralatannya 100juta, dan uang kas nya 20 juta.

Sederhananya, penilaianku adalah 150 juta dikurangi hutang nya 30 juta = 120 juta, itu adalah nilai yang akan aku miliki.

Dengan aku membayar tadi warung kopi itu sebesar 100 juta. Tentu aku sudah dapat diskon sekitar 17% dari total nilai bisnis itu.

Menurutku itu adalah bisnis yang murah .

Ini adalah penjelasan sederhana dari PBV (price to book value) yang teman-teman mungkin sering baca atau dengar kalau di dunia saham.

Itu adalah dasar dari penilaian suatu emiten dalam penentuan apakah emiten itu cukup murah atau terlalu mahal. Yang menjadi masalah adalah, ketika pasar sudah terlalu euforia, penilaian-penilaian sederhana ini pasti akan di perumit dengan hitungan-hitungan yang njlimet.

Kalau aku pribadi sebisa mungkin perhitungan dalam penilaian murah atau mahal nya suatu emiten, cukup bisa dilakukan oleh anak kelas 6 SD.

Dividen

Ini juga menarik menurutku. Aku sangat suka dengan perusahaan yang rutin membagikan dividen. Ada case khusus dimana kebanyakan perusahaan-perusahaan yang wonderfull , biasanya PBV nya sangat-sangat tinggi. Kenapa PBV nya bisa sangat tinggi?

Contoh nya Unilever, perusahaan ini adalah termasuk perusahaan yang Capital Efficient Company. Yang artinya, perusahaan ini tidak butuh capital (modal) yang besar untuk kegiatan operasionalnya. Ini biasanya adalah perusahaan dengan produk-produk yang sudah memiliki branding yang sangat kuat. Yang mahal adalah brand nya.

Perusahaan ini , hampir setiap tahun mencetak laba , dan labanya diserahkan hampir 100% ke pemegang saham. Sehingga ekuitas perusahaan ini, cenderung stagnan. Ekuitas stagnan, sementara market menilai tinggi harga perusahaan ini, jadilah PBV nya tinggi.

Namun yang perlu di perhitungkan adalah dividen yang diberikan tiap tahunnya. Semakin turun harga sahamnya, dengan laba dan dividen setiap tahunnya rutin dibagikan. Tentu persentasi dividen nya akan semakin besar.

Dan pengembalian modal kita dari dividen tadi pun bisa diperhitungkan berapa tahun balik modal.

Kalau dari dividen saja, bisa balik modal kurang dari 10 tahun, menurutku perusahaan itu sangatlah murah. Berarti rata-rata per tahun dividennya 10% dari modal pembelian kita.

Contohnya pernah kuposting di sini :

Return Dividen ADMF selama 7 tahun hampir one bagger

Oke, mungkin ketiga penilaian sederhana itu cukup mudah dipahami dan diterapkan.

Sesimpel itu lah menurutku penilaiannya .

close

Subscribe!

Dapatkan Postingan Terbaru Via Email !

Take a look at our Privacy Policy for more info.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *