Istilah “High risk, High return” sering kali disematkan ke produk pasar modal yang satu ini, “Saham”. Kenapa bisa ini terjadi? Saya tidak tau pastinya. Kemungkinan besar, lebih banyak orang yang rugi dibandingkan orang yang berhasil.
Tapi ini pun saya tidak punya data yang valid.

Lantas kenapa bisa rugi di pasar saham? Sederhananya karena kita menjual kepemilikan saham kita dengan harga yg lebih murah dari harga yang kita beli. Ditambah lagi biaya fee dan pajak2 yang harus kita tanggung. Jadi kalaupun kita menjual dengan harga yang sama persis dengan harga beli kita, kita tetap akan rugi di biaya fee dan pajak2.

Di saham ada dikenal “Floating loss dan floating gain”. Jadi kalau kita membeli saham A di harga 500, ternyata besoknya harganya turun menjadi 400, sebelum saham itu kita jual dan terealisasi , maka sebenarnya kita belum bisa disebut rugi, tapi masih floating loss atau rugi yang belum direalisasikan. Begitu juga sebaliknya.

Sering orang langsung takut harganya semakin turun, ketika terjadi floating loss, sehingga dia memutuskan untuk cut loss. Itulah namanya kerugian.

Kebanyakan orang seperti ini adalah orang yang masih ikut-ikutan. Tidak mempunyai dasar yang kuat kenapa dia membeli saham itu, dan kenapa dia membeli di harga segitu.

Tidak ada satu orang pun yang tau pasti berapa harga saham esok hari, minggu depan , bulan depan dst. Tak ada yang tau apa yang terjadi hari esok. Orang yang mengatakan dia tau, fix dia adalah pendusta.

Seorang investor bermain dengan margin of safety, artinya dia fokus ke faktor keamanan yang membuatnya nyaman untuk membeli di harga tertentu, istilah sederhananya adalah diskon. Untuk itulah seorang investor seharusnya mempunyai kemampuan untuk menilai perusahaan itu seperti apa , mulai dari caranya mencetak laba, punya aset berapa, punya hutang berapa, berapa lama pengembalian uang apabila investor menginvestasikan uangnya ke perusahaan tersebut, dst. Ada perhitungan bisnis di dalamnya, karena dalam jangka panjang, harga saham pada akhirnya akan mengikuti kinerja perusahaan.

Namun perusahaan membutuhkan waktu untuk menunjukkan kinerjanya dalam laporan keuangannya, tidak ada perusahaan yang melaporkan kinerjanya dalam waktu harian, mingguan atau bulanan. Paling cepat malah quartalan.

Jadi pergerakan saham dalam tempo waktu harian, tidak lain tidak bukan adalah karena adanya permintaan dan penawaran. As simple as that.

Nah adanya transaksi harian yang kengakibatkan naik turunnya harga saham, memunculkan peluang untuk perbedaan harga yang ditawarkan orang lain dengan nilai real perusahaan itu sendiri. Ketika nilainya dirasa cukup (lebih tinggi daripada harganya) oleh investor, disitulah saat yang tepat dia masuk.

Yang menjadi pekerjaan rumah investor tadi adalah untuk mengenali dan mengkalkulasi nilai perusahaan tersebut dan berapa harga yang diingankannya sampai dirasa margin of safety nya cukup.

Setelah itu, investor tadi hanya tinggal menunggu sampai pasar mengapresiasi kinerja perushaan dalam jangka waktu tertentunya. Sampai kapan? Tidak ada yang tahu. Bisa setahun, dua tahun, 5 tahun, 10 tahun , dst.

Dibanding dengan menanyakan berapa banyak keuntungan yang bisa kuperoleh dari saham A, lebih baik sebelum membeli saham, tanyakan berapa banyak kerugian yang mungkin terjadi apabila aku membeli saham A. Kalau kita sudah dapat menghitung dan menerima berapa banyak kerugian yg mungkin terjadi, kita akan semakin tough dalam menghold saham itu. Itulah arti margin of safety.

close

Subscribe!

Dapatkan Postingan Terbaru Via Email !

Take a look at our Privacy Policy for more info.

One thought on “Kenapa Rugi di Pasar Saham?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *