Sebelum lanjut membaca, jangan lupa di subscribe ya website ini, dan kalau teman-teman merasa mendapatkan informasi yang baik, tolong diklik juga iklan nya, gak perlu banyak-banyak, cukup sekali aja tiap berkunjung, gratis kok. Supaya website ini bisa saya kembangkan lebih baik lagi. Terimakasih . Hehe

Good company doesn’t mean good investment . Aku selalu ingat kata-kata ini. Prinsip value investing adalah selalu membeli dengan harga yang lebih rendah daripada nilainya.

Sekarang aku pengen ngebahas sedikit tentang perusahaan rokok yang paling besar di Indonesia. Yapp, HM Sampoerna dan Gudang Garam.

Sebenarnya ada satu lagi, yaitu DJarum, tapi karena Djarum tidak listing, jadi kita tidak bisa menganalisis perusahaan tersebut.

Dikarenakan 5 tahun terakhir, harga saham perusahaan rokok ini sudah turun lebih dari 50%, maka menjadi semakin menarik untuk menilai, apakah ini merupakan kesempatan yang baik untuk berinvestasi di perusahaan wonderfull company ini?

Oke, mari kita ulik beberapa yang menurutku penting dari kedua perusahaan ini.

Pemegang Saham

Pemegang Saham HMSP
Pemegang saham GGRM

HMSP dikuasai oleh Phillip morris, perusahaan dari Swiss yang merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia. Kepemilikian saham di HMSP sebesar 92,5%, artinya kalau sudah seperti itu, biasanya perusahaan dijadikan Cashcow oleh pemilik saham mayoritasnya, apalagi perusahaan asing . Sehingga kemungkinan besar, biasanya laba bersih nya akan dibagikan seluruhnya dalam bentuk dividen.

GGRM sendiri dikuasai oleh keluarga Wonowidjoyo, salah satu konglomerat di Indonesia. Kalau ini dikuasai oleh orang indonesia sendiri.

Volume Penjualan Rokok

Sekarang , mari kita lihat total penjualan kedua perusahaan ini. Data ini saya oleh sendiri dari Annual Report kedua perusahaan. Saya kemas dalam bentuk excel.

Sedikit klarifikasi, bahwa data market share itu saya peroleh dari masing-masing AR perusahaan. Sehingga mungkin ada ketidak cocokan antara klaim perusahaan dengan porsi market share di Indonesia. Namun yang perlu kita garis bawahi adalah volume jumlah (dalam milyar btg) penjualan rokok itu sendiri.

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa penjualan HMSP cenderung mengalami penurunan yang signifikan mulai tahun 2012, dibandingkan dengan GGRM yang mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan penjualannya dari mulai 2012 sd 2020.

Mulai tahun 2020, bahkan secara jumlah rokok yang dijual oleh GGRM sudah melampau HMSP.

Secara branding ,sebenarnya kedua produk ini sama – sama kuat. Dan punya keunggulan dan pelanggan masing-masing. Kalau disekitarku, porsi untuk orang yang lebih tua kebanyakan rokoknya adalah gudang garam, sementara usia yang lebih muda (<40 tahun) banyak yang menghisap Sampoerna. Tentu ini tidak bisa dijadikan acuan spesifik, hanya penilaian pribadi. Kalau menurut pembaca sendiri seperti apa?

Yang pasti dari konsistensi dan peningkatan penjualan GGRM lebih unggul dari HMSP

Volume vs Harga Rokok

Dari tingkat harga penjualan masing-masing rokok, sebenarnya hampir berimbang setiap tahunnya. Peningkatan harga penjualan tentunya sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam menaikkan cukai rokok.

Bisa kita lihat dari tabel di atas bahwa, komponen tertinggi dari harga jual rokok disumbang oleh cukai, yang lebih dari 50% harga penjualan.

Kenaikannya hampir konsisten setiap tahun, dari mulai harga per batang rokok di kisaran Rp 600an tahun 2012 sampai Rp 1000an di tahun 2020.

Pendapatan vs Laba Bersih

Rata-rata Net Profit Margin (NPM) yang dihasilkan oleh HMSP lebih unggul dibandingkan rata-rata NPM yang dihasilkan oleh GGRM . Dari datai 8 tahun terakhir, HMSP mencatat NPM sebesar 12% sementara GGRM hanya mampu di 8%. Dengan Ekuitas HMSP yang jauh lebih kecil dibandingkan GGRM, membuat kesimpulan bahwa HMSP jauh lebih efisien dibandingkan GGRM. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi? Menurutku bisa jadi banyak hal, mulai dari logistik, efisiensi pabrikasi, periklanan, dll.

Namun terlepas dari itu, kedua perusahaan ini, sama-sama perusahaan yang mampu mengenerate CASH yang hebat setiap tahunnya.

Perhatikan, bahwa Cash Flow from operationnya gak jauh-jauh beda dengan laba bersihnya. Artinya , penjualan nya memang langsung mengenerate cash, tanpa banyak hutang piutang yang berumur, yang kadang menyulitkan kita sebagai investor retail dalam menghitung.

Laba Bersih vs Dividen

Nah, dengan menggunakan harga saat ini (1 oktober 2021), maka dapat kita lihat history dividen yield yang diberikan oleh kedua perusahaan ini.

Seperti tadi kita bahas, bahwa pemegang saham pengendali mungkin sangat berpengaruh dalam keputusan berapa persen laba yang akan dibagikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen.

Dan yap, HMSP yang dikuasai 92,5% oleh Philip Morris, men generate Dividen yang cukup tinggi, bahkan kalau kita jumlahkan dividen yang dibagikan dari 2012 sampai 2020, dengan asumsi pembelian kita di harga saat ini , maka HMSP sudah memberikan return dividen 90% dari modal awal kita. Hampir one Bagger.

Sementara GGRM masih di bawah itu, yakni 50% dari modal awal kita, dengan asumsi pembelian dengan harga saat ini.

Artinya apa? seperti tulisan saya sebelumnya, bahwa salah satu indikator saya dalam menilai suatu saham murah dapat juga kita lihat dari dividen yield, Bayangkan dari dividen saja, kurang dari 10 tahun kita sudah balik modal. Menarik bukan?

Tapi tentu perhatikan juga proyeksi operasional perusahaan ini dalam 10 tahun mendatang masih konsisten tidak? Jangan-jangan sudah hilang. Hehehe.

Untuk industri rokok sendiri, menurut saya cukup sulit untuk ditinggalkan orang-orang , khususnya yang sudah terlanjur merokok, karena menurut teman-teman saya yang perokok , sangat sulit untuk tidak merokok, bahkan dalam sehari saja. (Nb : Saya tidak merokok)

Dan akhir-akhir ini, akibat dari kenaikan harga yang tinggi, orang-orang sebenarnya bukan gak merokok, tapi lebih ke mencari rokok-rokok murah, yang bahkan bisa jadi ilegal, demi tetap melanjutkan kegiatan merokok.

Mungkin ada beberapa yang bisa mengurangi intensitas jumlah merokoknya, tapi itu tetap saja sulit bagi orang yang sudah kecanduan rokok.

Jadi menurut saya, indsutri ini 10 tahun lagi pun masih akan tetap eksis.

Valuasi HMSP vs GGRM

Oke, sekarang kita di tahap valuasi untuk menentukan yang mana yang akan kita pilih dari kedua perusahaan efisien ini.

Untuk harga saat ini. GGRM dihargai Rp 32050 per lembarnya, yang mana dengan harga ini, PE Ratio nya 13x dan PBV nya 1 kali. Dengan kualitas mencetak laba dan membagi dividen yang cukup baik, tentu ini sudah barang murah kalau menurutku .

Oya itu nilai 13x dikarenakan penilaian proyeksi laba bersih untuk tahun 2021 ini. Dimana ada penurunan laba , dikarenakan covid ini.

Kalau menggunakan rata-rata laba 5 tahun ke belakang, dengan market kapital 61 Triliun, dan rata-rata laba per tahun nya 8 triliun, maka PE nya menjadi sekitar 7-8 kali. Cukup murah bukan?

Bagaimana dengan HMSP ?

HMSP dengan tingkat yield dividennya, bisa 8-9 tahun balik modal. Hehe. Kalau untuk PE nya sendiri, dengan harga saat ini di (Rp 1020 per lembar ), market kapitalnya 118 Triliun. Laba per tahun rata-rata perusahaan ini bisa menghasilkan laba 10 Triliun , sehinga perkiraan PE nya di kisaran 11-12 kali.

Dengan kondisi penjualan GGRM yang sudah lebih tinggi dan mengalami peningkatan dibandingkan HMSP yang malah konsisten mengalami penurunan, kalau disuruh milih, aku pribadi akan memilih GGRM.

Bagaimana dengan kalian?

Nb : Ini adalah analisa pribadi. Bukan ajakan membeli maupun menjual. Tidak ada unsur apa-apa selain murni pendapat dan perhitungan pribadi. Jadi apabila pembaca ingin memutuskan membeli apapun yang tercantum di tulisan ini, resiko nya silahkan tanggung masing-masing ya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi informasi yang baik buat kita semua.

Jangan lupa subscribe dan klik iklannya. Terimakasih.

close

Subscribe!

Dapatkan Postingan Terbaru Via Email !

Take a look at our Privacy Policy for more info.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *