“Sebuah perjalanan seribu mil, dimulai dengan satu langkah” Lao Tzu

Jawabannya, “Tentu saja bisa”.

Harga saham paling rendah di bursa saham indonesia adalah RP 50/lembar. Dan kalau mau membeli saham, minimal harus 1 Lot (1 lot=100 Lembar), artinya kita perlu menyediakan uang minimum Rp 5000 untuk memiliki 1 Lot saham.

Mungkin masih banyak orang yang belum teredukasi dan menganggap kalau untuk membeli saham harus modal puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyaran rupiah. Dan itu hanya bisa diakses oleh orang-orang super kaya.

Sekarang mari kita lihat data KSEI untuk info seperti apa pelaku pasar modal kita.

Menarik bukan melihat data di atas?

Kepemilikian Modal Investor Indonesia

Kita mulai dari kepemilikian modal investor. Bahwa sampai dengan juni 2021, sekitar 33,77% , adalah investor dengan kepemilikian modal di bawah 10 Juta.

Menempati posisi ke 2 setelah investor yang memiliki modal 10 – 100jt. Rata-rata UMR di Indonesia adalah berkisar 3 juta per bulan. Sehingga sangat dimungkinakan bahwa sebagian besar yang bergaji UMR masuk ke dalam persentasi ini.

Bahkan kalau investor tadi sudah lama di pasar modal, bisa jadi modalnya sudah naik kelas menjadi ratusan juta, dengan awalnya menyisihkan sedikit dari gaji UMR nya.

Usia & Pendidikan

Sebesar 58% investor adalah kaum millenial dengan usia <30 tahun. Dan 53% investor berpendidikan SMA ke bawah.

Menarik mencermati data ini. Karena bagaimanapun keunggulan kompetitif investor terletak pada pengetahuan dan keinginan belajarnya.

Tentu tidak bisa semata-mata dijadikan kesimpulan bahwa lulusan SMA tidak lebih berpengetahuan dibandingkan yang sudah Sarjana atau lebih. Dan korelasi antara tingkat pendidikan dengan kesuksesan pun sangat tidak bisa di simpulkan .

Yang menjadi pertanyaan penting adalah, sudah baikkah tingkat literasi tentang pasar modal di antara semua golongan ini?

Pertumbuhan Jumlah Investor

Meskipun secara jumlah, nilai investor kita cukup besar yakni sebanyak 5,5 Jt orang, namun secara persentasi, nilai ini masih sangat kecil terhadap total jumlah penduduk kita yang mencapai 270jt . Yakni 2%.

Melihat trend nya tentu ke depan, jumlah ini akan semakin meningkat, dan menjadi kesempatan buat kita dan negara ini untuk semakin baik lagi, dengan tingginya kapital yang berputar di Pasar Modal, sehingga ini bisa dimanfaatkan pelaku usaha untuk menggalang dana demi kemajuan usaha itu sendiri dan secara langsung/tidak langsung berkontribusi terhadap kemajuan negeri ini.

Melihat data-data itu, apakah kalian tidak tertarik untuk bergabung? (bagi yang masih belum join).

Tentu apabila kalian ingin bergabung dengan 5,5 jt orang lainnya, pahami terlebih dahulu tata cara permainannya seperti apa.

Kendala Psikologis Dengan Modal Kecil

Alasan utama seseorang tidak mau menginvestasikan uangnya adalah karena merasa kebutuhannya masih lebih besar dari pemasukannya. Bahwa untuk makan sehari-hari saja dirasa kurang, boro-boro membeli saham.

Ini adalah alasan klasik, dan sangat sulit untuk meyakinkan seseorang akan hal ini. Namun kisah ini semoga memberikan wawasan buat kita untuk memahami psikologis tersebut.

Ilmuan mengukur fisiologis monyet dengan memberikan apel. Suatu kelompok monyet diberikan 2 buah apel. Sang monyet-monyet tadi sangat bergembira dan berpesta pora. Dan tiba-tiba ilmuwan itu kembali menarik 1 apel, dan menyisakan 1 apel lagi. Apa yang terjadi? mereka (monyet-monyet) itu marah sekali, dan demonstrasi besar-besaran. Hehe

Apakah itu terjadi ke manusia? Apa kaitannya?

Kalau kita sudah menggenggam sesuatu ,dan melepaskannya untuk alasan (contohnya investasi yang masih belum ada di list kebutuhan langsung kita) maka kita akan merasa seperti monyet diambil apelnya. Namun apabila dana itu kita paksa di awal langsung disisihkan untuk investasi, sehingga seolah-olah kita belum sempat memilikinya, respon kita tentu akan berbeda, dan merasa bahwa 1 apel akan cukup dan harus dicukupkan.

Oleh karena itu, ketika perusahaan, atau pemerintah langsung menarik dana di awal untuk pajak, dana pensiun karyawan, dll, para pekerja tidak merasa itu memberatkan, karena yang mereka terima seolah-olah sudah 1 apel.

Nah, bagaimana respon kita terhadap psikologi itu? Apakah kita bisa mengendalikannya?

Baca :
Tips Sebelum Membeli Saham
Kisah Sukses Penjaga Pom Bensin di Pasar Saham

Buku Wajib Value Investor

close

Subscribe!

Dapatkan Postingan Terbaru Via Email !

Take a look at our Privacy Policy for more info.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *